“Ketupat Lebaran”

Ketupat Lebaran……………

Ketupat hanya sebuah nama dari salah satu masakan khas negara-negara di kawasan asia tenggara seperti Indonesia, Malaisya, Brunei dan lainnya. Ketupat identik dengan lebaran, karena disaat itulah ketupat selalu menjadi hidangan istimewa bagi keluarga-keluarga yang merayakannya. Alhasil, ternyata kisah tentang ketupat ini sudah sejak dari dulu kala, seperti yang pernah dikupas oleh bulletin Melsa pada edisinya No. BM/1021, bahwa tradisi ketupat ini diperkirakan bermula sejak Islam masuk ke tanah Jawa. Dalam sejarah, Sunan Kalijaga merupakan orang pertama yang memperkenalkannya kepada masyarakat Jawa. Beliau membudayakan dua kali Bakda, yaitu “Bakda Lebaran” dan “Bakda Kupat”. Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah Lebaran. Pada hari yang disebut Bakda Kupat tersebut, di tanah Jawa waktu itu hampir setiap rumah terlihat menganyam ketupat dari daun kelapa muda. Setelah masak, kupat tersebut kemudian diantarkan ke kerabat yang lebih tua, menjadi sebuah lambang kebersamaan.

Bagi sebagian masyarakat pedalaman di kawasan Timur Indonesia, ketupat merupakan bekal yang paling berharga dalam perjalanan, selain bentuknya yang mudah dibawa, ketupat juga termasuk salah satu jenis masakan yang tahan lama, tidak mudah basi sehingga masih bisa dimakan untuk beberapa hari kedepan.

Ketupat sendiri menurut para ahli memiliki beberapa arti, diantaranya adalah mencerminkan berbagai macam kesalahan manusia, jika dilihat dari rumitnya anyaman bungkus ketupat. Yang kedua, mencerminkan kebersihan dan kesucian hati setelah mohon ampun dari segala kesalahan, yang dapat dilihat dari warna putih ketupat jika dibelah dua. Yang ketiga, mencerminkan kesempurnaan, jika dilihat dari bentuk ketupat. Semua itu dihubungkan dengan kemenangan umat Muslim setelah sebulan lamanya berpuasa dan akhirnya menginjak hari yang fitri.

Bercermin pada ketupat yang dikaitkan dengan lebaran, betapa bermaknanya ia bagi manusia. Ia tidak hanya berupa hidangan sesaat untuk menghilangkan lapar dan dahaga tetapi ia lebih merupakan subuah wujud nyata yang merepsentasikan jiwa dan raga manusia seperti tiga makna yang terkandung didalamnya. Marilah kita saling maaf memaafkan, membersihkan diri, menyucikan bathin dan menjalin kasih baik kepada kerabat, sahabat, rekan kerja dan sesama sebagai mahkluk ciptaanNya.

Akhir kata, saya mengucapkan selamat Hari Raya Lebaran 1 Syawal 1431 H, Minal Aidin Falfaizin, mohon maaf lahir dan bathin. SALAM HORMATKU YAZER BESERTA KELUARGA………….

Tujuh Belas Amal Penghapus Dosa

Manusia pasti berbuat dosa dan pasti butuh ampunan Allah. Oleh karena itu Allah memberikan keutamaan dan kemurahan kepada hamba-Nya dengan mensyariatkan amalan-amalan yang dapat menghapus dosa disamping taubat. Sebagiannya (amalan ini) dijelaskan dalam AlQur’an dan sebagiannya lagi dalam sunnah Rasulullah saw. Diantaranya sebagai berikut :

1. Menyempurnakan wudhu dan berjalan ke mesjid, sebagaimana disampaikan Rasulullah saw., “Maukah kalian aku tunjukkan sesuatu yang dapat menghapus dosa dan mengangkat derajat. Mereka menjawab: ya, wahai Rasulullah. Beliau berkata: sempurnakan wudhu ketika masa sulit dan memperbanyak langkah ke mesjid serta menunggu shalat satu ke shalat yang lain, karena hal itu adalah ribath.” (Riwayat Muslim dan At-Tirmidzi)

Juga dalam sabda beliau yang lain:
Jika seseorang berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian berangkat shalat dengan niat hanya untuk shalat, maka tidak melangkah satu langkah kecuali Allah angkat satu derajat dan hapus satu dosa.” (Riwayat At-Tirmidzi)

2. Puasa hari Arafah dan Asy Syura, hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah, “Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus (dosa selama) setahun yang sebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari Asy Syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang lalu.” (Riwayat At-Tirmidzi)

3. Shalat tarawih di bulan Ramadhan dengan dalil sabda Rasulullah, “Barangsiapa menegakkan Ramadhan (shalat tarawih) dengan iman dan mengharap pahala Allah maka diampunilah dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaihi)

4. Haji yang mabrur
Barangsiapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan (kejelekan) maka ia kembali seperti hari ibunya melahirkannya.” (Riwayat Al-Bukhari). Kemudian dalam sabda beliau dinyatakan, “Haji mabrur balasannya adalah surga.” (Riwayat Ahmad)

5. Memaafkan hutang orang yang sulit membayarnya

6. Melakukan kebaikan setelah berbuat dosa dengan dalil:
Bertakwalah kepada Allah di mana pun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan etika yang mulia.” (Riwayat At-Tirmidzi dan Ahmad)

7. Memberi salam dan berkata baik dengan dalil sabda Rasulullah, “Sesungguhnya termasuk sebab mendapatkan ampunan adalah memberikan salam dan berkata baik.” (Riwayat Al-Kharaithi dalam Makarim al Akhlak)

8. Sabar atas musibah dengan dalil sabda Rasulullah, “Sesungguhnya Allah Azza Wa Jalla berfirman, “Sesunguhnya apabila Aku meguji seorang hamba-Ku yang mukmin, lalu ia memuji-Ku atas ujian yang Aku timpakan kepada-Nya, maka ia bangkit dari tempat tidurnya (dalam keadaan) bersih dari dosa seperti hari ibunya melahirkannya.“” (Riwayat Ahmad)

9. Menjaga shalat lima waktu dan Jum’at serta puasa Ramadhan dengan dalil sabda Rasulullah, “Shalat lima waktu dan jum’at ke jum’at dan ramadhan ke ramadhan adalah penghapus dosa diantara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (Riwayat Muslim)

10. Adzan dengan dalil sabda Rasulullah, “Sesungguhnya seorang Muadzin akan diampuni dosanya sepanjang (gema) suaranya.” (Riwayat Ahmad)

11. Melakukan shalat, dengan dalil sabda Rasulullah, “Bagaimana pendapat kalian seandainya ada sungai di pintu yang digunakan untuk mandi setiap hari lima kali, apa yang kalian katakan apakah tersisa kotorannya? Mereka menjawab, “Tidak ada sisa kotorannya sedikitpun.”” Beliau bersabda, “Shalat lima waktu menjadi sebab Allah menghapus dosa-dosa.” (Riwayat Al-Bukhari)

12. Memperbanyak sujud dengan dalil sabda Rasulullah, “Hendaklah kamu memperbanyak sujud kepada Allah, karena tidaklah kamu sekali sujud kepada-Nya melainkan Dia mengangkatmu satu derajat dan menghapus satu kesalahanmu (dosa) darimu.” (Riwayat Muslim)

13. Mengerjakan shalat malam. Rasulullah bersabda, “Hendaklah kalian shalat malam, karena ia adalah adat orang yang shalih sebelum kalian dan amalan yang mendekatkan diri kepada Rabb kalian serta penghapus kesalahan dan mencegah dosa-dosa.” (Riwayat Al-Hakim)

14. Berjihad di jalan Allah.
Akan diampuni tiap dosa orang yang mati syahid kecuali utang.” (Riwayat Muslim)

15. Mengiringi haji dengan umrah. Rasulullah pernah mengatakan, “Iringi antara haji dengan umrah, karena pengiringan antara keduanya dapat menghilangkan kefakiran dan dosa sebagaimana Al Kier (alat pembakar besi) menghilangkan karat besi.” (Riwayat Ibnu Majah)

16. Shaadaqah dengan dalil, “Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan pada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu; dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Baqarah : 271)

Rasulullah pun bersabda, “Shadaqah menghapus dosa seperti air memadamkan api.” (Riwayat Ahmad, At-Tirmidzi dan selainnya)

17. Menegakkan hukum pidana dengan adil, “Siapa saja yang melanggar larangan Allah kemudian ditegakkan padanya hukum pidana maka dihapus dosa tersebut.” (Riwayat Al-Hakim)

Demikian sebagian penghapus dosa, mudah-mudahan penjelasan bermanfaat.

Laylatul Qadr

Mengapakah malam Nuzulul Quran selalu diperingati?

Pertama, karena hal itu merupakan titik tolak dari adanya sumber petunjuk yang mestinya diikuti dan dilaksanakan oleh umat Islam. Lebih-lebih lagi ketika Alquran mengenalkan dirinya sebagai hudan linnaas (sebagai petunjuk bagi manusia). Tetapi, kalau Alquran itu sendiri tidak dipahami dan tidak dilaksanakan, maka fungsinya sebagai petunjuk menjadi sia-sia, karena Alquran adalah benda mati, tidak mempunyai fungsi apa-apa, kecuali kalau kita yang meyakininya mau melaksanakan tuntunan-tuntunannya.

Sehingga dengan ungkapan: Allahumma baalikna ila ramadhan (Ya Allah, sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan) antara lain adalah untuk mengingatkan kembali bahwa pada bulan ini (Ramadhan) Alquran pertama kali diturunkan dan itu merupakan petunjuk bagi manusia yang mesti dilaksanakan untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkan.

Kedua, bahwa dalam bulan Ramadhan ini juga terjadi sesuatu yang selalu dinantikan umat Islam, yaitu yang disebut Laylatul Qadr (malam qadr). Laylatul Qadr yaitu malam yang penuh berkah, karena pada malam ini nilai ibadah yang dilakukan umat Islam sama dengan jumlah yang mereka kerjakan selama seribu bulan. Pada malam ini pula para malaikat turun untuk menyampaikan berkah Allah kepada hamba-hamba-Nya yang terpilih mendapatkan Laylatul Qadr.

Tapi kemudian muncul persoalan, kapankah sebenarnya Laylatul Qadr itu terjadi? Jika kita mencermati Surah Al-Qadr, bahwa Alquran itu diturunkan pada Laylatul Qadr. Laylatul Qadr yang disebutkan pada surah Al-Qadr ini diyakini terjadi pada tanggal 17 Ramadhan.

Namun di sisi yang lain, Rasulullah menganjurkan umat Islam untuk mendapatkan Laylatul Qadr pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah memberikan contoh dengan melaksanakan ibadah secara intensif yang disertai dengan i’tikaf di masjid. Mengenai hal ini, ummul mu’minin Aisyah pernah mengungkapkan suatu hadis yang kemudian diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

Aisyah r.a. istri Nabi mengatakan bahwa Nabi saw. selalu beri’tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sehingga Allah mewafatkan beliau. Setelah itu para istri beliau beri’tikaf sepeninggal beliau. (Al-Hadits)

Dalam shahih Bukhari diriwayatkan lebih dari 40 hadis yang berbicara tentang Laylatul Qadr. Namun ternyata informasinya berbeda-beda. Ada hadis yang menyebutkan, bahwa Laylatul Qadr terjadi pada bulan Ramadhan tanpa disebutkan kapan waktunya (tanggal atau hari ke berapa dari bulan Ramadhan tersebut). Sehingga dengan demikian, Laylatul Qadr bisa turun di setiap saat selama bulan Ramadhan. Pada bulan Ramadhan, umat Islam dianjurkan mensucikan diri, mengaktifkan ibadah, tekun membaca Alquran, karena siapa tahu Laylatul Qadr sudah turun pada awal-awal Ramadhan.

Ada juga hadis lain yang menyatakan, bahwa Laylatul Qadr terjadi di awal atau puluhan awal Ramadhan. Sehingga sejak inilah umat Islam pun melakukan ibadah-ibadah dalam rangka mensucikan batin. Ada pula yang mengatakan bahwa Laylatul Qadr itu terjadi pada pertengahan Ramadhan. Mungkin yang menjadi dasar bahwa Laylatul Qadr itu terjadi pada tanggal 17 Ramadhan adalah salah satu ayat di dalam Surah Al-Anfaal:

Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad) di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Q.S. Al-Anfaal: 41)

Dua pasukan besar yang dimaksud yaitu pasukan muslimin dari Madinah dan pasukan kafir dari Mekah. Pertemuan dua pasukan tersebut terjadi tepat pada tanggal 17 Ramadhan, yaitu ketika Perang Badar. Dan 17 Ramadhan pada 13 tahun sebelumnya Rasulullah menerima wahyu yang pertama. Sehingga dari di sinilah kemudian dianggap bahwa 17 Ramadhan adalah Nuzulul Quran yang pertama, dan itu terjadi tepat pada Laylatul Qadr.

Namun, sebagian besar dari 40 hadis shahih Bukhari tersebut menyatakan bahwa Laylatul Qadr itu terjadi pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yaitu dari malam 21 sampai malam 29. Sehingga dari sinilah Rasulullah pun menganjurkan umat Islam untuk beri’tikaf di masjid. Dan yang harus diingat juga, bahwa i’tikaf mesti dihayati sebagai sarana untuk mensucikan diri, karena ada orang yang sudah beri’tikaf, tetapi kemudian melalaikan yang wajib.

Karena itulah, jika ingin melaksanakan i’tikaf, tentunya harus didasari keimanan, sebagaimana yang diungkapkan oleh Rasulullah:

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa melakukan ibadah Ramadhan karena iman dan mengharap ridha-Nya, maka diampunilah dosa-dosanya yang telah lewat.” (Muttafaq Alaihi)

Jadi, puasa yang kita laksanakan bukan karena merasa tidak enak terhadap tetangga ataupun malu dengan keluarga, melainkan betul-betul melaksanakannya karena Allah. Mungkin ada orang yang mau berpuasa agar menjadi sehat, bukan karena iman. Bisa jadi orang tersebut menjadi sehat, tetapi tidak akan mendapatkan balasan Allah dari imannya. Yang ia dapat sehatnya saja. Tapi kalau kita melakukan puasa dilandasi dengan keimanan, maka kita akan mendapatkan ridha Allah, dan juga akan mendapatkan kesehatan.

Tahap-Tahap Turunnya Alquran

Para ulama mengisyaratkan bahwa Alquran itu turun dalam tiga tahap:

Tahap pertama, Alquran diturunkan Allah ke Lauh Mahfuzh. Dalam salah satu ayat diungkapkan:

(21) Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al Qur’an yang mulia, (22) yang (tersimpan) dalam Lauh Mahfuzh. (Q.S. Al-Buruuj: 21-22)

Tahap kedua, penurunan dari Lauh Mahfuzh ke Baytul Izzah. Di sinilah Alquran diturunkan sekaligus.

Tahap ketiga, dari Baytul Izzah kepada Rasulullah secara bertahap yang awalnya adalah Surah Al-‘Alaaq ayat 1 sampai 5.

Sedangkan mengenai ayat Alquran yang terakhir turun, ada beberapa perbedaan pendapat mengenai hal itu. Ada yang mengatakan bahwa yang terakhir turun itu adalah Surah Al-Maidah ayat 3. Namun ayat ini setelah dilacak ternyata turun pada saat Rasulullah melaksanakan Haji Wadaa’. Setelah haji wadaa’ itu selesai, Rasulullah masih hidup 2 bulan 22 hari. Padahal, ternyata ada ayat yang turun sembilan hari sebelum Rasulullah wafat, yaitu Surah Al-Baqarah ayat 261.

Sehingga kemudian para ulama bersepakat, bahwa Surah Al-Maidah ayat 3 adalah ayat terakhir yang berkaitan dengan hukum, karena ayat itu membicarakan mengenai hukum-hukum yang ditetapkan Allah. Sedangkan Surah Al-Baqarah ayat 261 merupakan ayat terakhir dari segi waktu turunnya.

Nuzuul artinya adalah turun. Nuzuulul quran berarti turunnya Alquran. Apakah maknanya Alquran itu dikatakan turun? Yang turun bukanlah Alquran yang berbentuk buku, melainkan yang turun itu adalah ayat-ayat yang disampaikan oleh Malaikat Jibril kepada Rasulullah. Karena itulah, Allah selalu memakai kata anzalna (Kami menurunkan). Dalam hal ini Alquran tidak diturunkan secara langsung oleh Allah kepada Rasulullah, melainkan melalui perantaraan Malaikat Jibril.

Deddy Corbuzier Lakukan Kebohongan Publik

Ditulis oleh luminous25 di/pada September 3, 2009

deddy_corbuzierKepolisian Republik Indonesia menilai Master Deddy Corbuzier telah melakukan kebohongan publik, saat tampil di acara Ultah salah satu stasiun televisi swasta belum lama ini.

Demikian dikemukakan, Kepala Badan Intelijen Keamanan (Kabaintelkam) Polri Inspektur Jenderal Saleh Saaf di sela-sela acara buka puasa bersama Polri dengan Menteri Agama dan Tokoh Ulama di Mabes Polri, selasa malam, 2 September 2009.

Menurut dia, latar belakang kebohongan yang dilakukan Deddy adalah tentang atraksinya pada saat dirinya ditembak dan kemudian menangkap peluru dengan mulut. “Pada saat atrksi Deddy mengklaim itu sudah ada ijin polisi, pistol, dan peluru beneran, padahal itu bohong,” ujar Saleh.

Bahkan, Saleh menambahkan, Deddy mengarang cerita kalau yang membawa pistol itu adalah seorang anggota Polisi. “Padahal itu nggak benar, dia sama sekali bukan anggota kita, tapi anak buahnya sendiri,” tuturnya.

Dia menambahkan, kebohongan kalau orang itu bukan anggota Polri terbukti setelah Deddy dipanggil ke Mabes Polri Senin lalu, 31 Agustus 2009.

Selain itu, Saleh mengaku pistol yang diklaim Deddy adalah benar juga bohong, karena ternyata hanya replika. “Jadi, sulapnya bohong,” kata dia.

Kendati demikian, meski Master Mentalis tersebut telah melakuka pembohongan publik, dirinya tidak dijadikan sebagai tersangka oleh Mabes Polri. Alasannya, namanya juga sulap, penuh trik. “Ya, tapi triknya berbau bohong juga,” ujar Saleh.

Sedangkan penyebutan institusi Polri dalam adegan kebohongan publik tersebut yang bisa terjadi pencemaran nama baik, menurut Saleh sudah mendapatkan maaf dari pihaknya. “Sebab, dia sudah minta maaf, ya sudah kita maafkan. Apalagi, ini kan bulan Puasa,” tuturnya.

Sumber : vivanews.com

Mas Deddy,… bisa aja nih…!  Kasihan rakyat Indonesia dong… sudah terlalu banyak dibohongi. Sudahlah jangan ditambah lagi…. :)

Inilah Gempa Dasyat yang mengguncang Indonesia tahun 2004-2009

Posted on September 3, 2009. Filed under: berita | Tags: , , , , , , , |

Gempa tektonik dasyat yang mengguncang Pulau Indonesia,yang berpusat pada Tasikmalaya ,bukanlah Gempa yang pertama dan kemungkinan besar itu bukan yang terakhir,karenaWilayah nusantara dikepung oleh lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik.

Sewaktu-waktu lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antarlempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh dan Sumatera Utara.

Berikut daftar sejumlah bencana gempa bumi dasyat yang terjadi di Indonesia sejak tahun 2004-2009

- 2 September 2009, gempa berkekuatan 7,3 SR terjadi di Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebanyak 46 tewas dan korban luka lebih dari 100 orang.

- 13 September 2007, gempa berkekuatan 7,8 SR terjadi di Pulau Sumatera, tak ada korban jiwa dilaporkan, gempa merusak sejumlah bangunan.

-12 September 2007, gempa berkekuatan 8,4 SR terjadi di Padang, Sumatera Barat. Sebanyak 25 tewas, dan lebih dari 50 orang luka-luka.

6 Maret 2007, gempa berkekuatan 6,3 SR mengguncang Pulau Sumatera, sebanyak 52 orang tewas dan 250 orang luka-luka. Dua jam kemudian, terjadi gempa susulan berkekuatan 6,1 SR

21 Januari 2007, gempa berkekuatan 7,3 SR mengguncang Sulawesi, empat tewasdan empat orang luka-luka.

- 17 Juli 2006, gempa 7,7 SR mengguncang Pengandaran dan pantai di Selatan Pulau Jawa, dan memicu terjadinya tsunami. 600 orang tewas dalam musibah itu.

- 27 Mei 2006, gempa dengan kekuatan 6,2 SR mengguncang Yogyakarta, lebih dari 3.000 orang tewas dalam musibah tersebut.

-28 maret 2005, gempa dengan kekuatan 8,7 SR mengguncang Nias dan Simeulue, 900 orang tewas, ribuan rumah dan jembatan rata dengan tanah.

- 26 Desember 2004, gempa dasyat dengan kekuatan 9 SR mengguncang Sumatera dan memicu tsunami di beberapa negara, terutama Indonesua. 131. 029 orang tewas, sementara ribuan lainnya hilang. Bencana terparah yang dialami nusantara.

- 26 November 2004, Gempa 6,4 SR mengguncang Nabire, Papua. 30 orang tewas.

- 12 November 2004, gempa berkekuatan 6 SR mengguncang Alor. Sebanyak 27 orang tewas, ratusan bangunan rata dengan tanah.

- 6 Februari 2004, gempa berkekuatan 6,9 SR dan gempa berkekuatan 7,1 SR pada 7 Februari 2004 mengguncang Nabire, 34 tewas.[vivanews]

dikutip oleh answering.wordpress.com

baca tulisan terkait :

Make a Comment

Lowongan di Bank Tabungan Negara ( BTN )

Ditulis oleh eko1984 di/pada September 2, 2009

BTNPT. Bank Tabungan Negara (Persero) membuka kesempatan kerja bagi Anda yang berpenampilan menarik, percaya diri, ulet, teliti dan jujur untuk mengisi posisi:

1. CUSTOMER SERVICE OFFICER (CSO)
2. TELLER (TL)

Kualifikasi Pelamar :

Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam Bank, D3, SMU | Bertanda: , | 9 Komentar »

Penerimaan CPNS Departemen Pekerjaan Umum 2009 ( exp : 30 September, 2009 )

DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA P E N G U M U M A N Nomor : KP.01.03-Mn/490 PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DEPARTEMEN PEKERJAAN UMUM TINGKAT PASCA SARJANA (S.2) DAN SARJANA (S.1) UNTUK GOLONGAN III TAHUN ANGGARAN [...]


Heboh Foto Foto Terbaru Noordin M Top (In Action)

Posted on Agustus 28, 2009

FB NoordinMtopFoto Foto Terbaru noordin M Top yg saya dapat dari kiriman E-mail teman saya, apabila anda mengenali atau sempat melihat silahkan hubungi RT setempat.

01 Noordin

02 Noordin

Sumber E-mail Bergulir

DIarsipkan di bawah: Berita | Ditandai: , , ,

Manajemen Ramadhan Nabi Muhammad SAW

Posted on Agustus , 2009. Filed under: Muhammad saw | Tags: , , , , , |

Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari neraka maka momentum yang penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai momentum Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi Training Manajemen Ibadah.

Agar Ramadhan menjadi bulan rahmat, ampunan dan keselamatan dari neraka maka momentum yang penuh berkah ini perlu dijadikan sebagai momentum Training Manajemen Syahwat, dan sekaligus menjadi Training Manajemen Ibadah. Inilah yang dilakukan Rasul Saw. Sebab itu, kita perlu menelusuri bagaimana Rasulullah Saw dan generasi Islam pertama, generasi terbaik umat ini, menjalankan manajemen Ramadhan.

Untuk mendapatkan gambaran utuh dari manajamen Ramadhan Rasul Saw. ada empat situasi yang perlu kita perhatikan. Pertama, sebelum memasuki Ramadhan. Kedua, saat memasuki Ramadhan. Ketiga, setelah memasuki Ramadhan. Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir.

Pertama, sebelum memasuki Ramadhan

Para Sahabat dan generasi setelah mereka (Tabi’in) selalu merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka selalu berdoa agar diberi Allah kesempatan menemui Ramadhan sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba. Imam Malik, misalnya, sering minta izin pada Sahabatnya setelah pengajian untuk mempelajari bagaimana Sahabat memenej kehidupan ini, termasuk hal-hal yang terkait dengan Ramadhan mereka. Kendati Beliau tidak hidup bersama para Sahabat, namun Beliau mampu meneladani mereka melalui sejarah hidup mereka.

Ma’la Bin Fadhal berkata : Dulu Sahabat Rasul Saw. berdoa kepada Allah sejak enam bulan sebelum masuk Ramadhan agar Allah sampaikan umur mereka ke bulan yang penuh berkah itu. Kemudian selama enam bulan sejak Ramadhan berlalu, mereka berdoa agar Allah terima semua amal ibadah mereka di bulan itu. Di antara doa mereka ialah : Yaa Allah, sampaikan aku ke Ramadhan dalam keadaan selamat. Yaa Allah, selamatkan aku saat Ramadhan dan selamatkan amal ibadahku di dalamnya sehingga menjadi amal yang diterima.

Dari sikap dan doa yang mereka lakukan, jelas bagi kita bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya sangat merindukan kedatangan Ramadhan. Mereka sangat berharap dapat menjumpai Ramadhan agar mereka meraih semua janji dan tawaran Allah dan Rasul-Nya dengan berbagai keistimewaan yang tidak terdapat di bulan-bulan lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa para Sahabat dan generasi setelahnya memahami dan yakin betul akan keistimewaan dan janji Allah dan Rasul-Nya yang amat luar biasa seperti rahmah (kasih sayang), maghfirah (ampunan) dan keselamatan dari api neraka. Inilah yang diungkapkan Imam Nawawi : Celakalah kaum Ramadhaniyyin. Mereka tidak mengenal Allah kecuali di bulan Ramadhan. Sungguh Rasulullah, Sahabat dan generasi setelahnya mengenal Allah sejak jauh-jauh hari sebelum Ramadhan dan di bulan Ramadhan pengenalan kepada Allah lebih mereka tingkatkan.

Kedua, saat memasuki Ramadhan

Saat hilal muncul di ufuk pertanda Ramadhan tiba, Rasul dan para Sahabat melihat dan menyambutnya dengan suka cita sambil membacakan doa seperti yang diceritakan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu dalam hadits berikut :
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى الْهِلاَلَ قَالَ :« اللَّهُ أَكْبَرُ ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيمَانِ وَالسَّلاَمَةِ وَالإِسْلاَمِ وَالتَّوْفِيقِ لِمَا يُحِبُّ رَبُّنَا وَيَرْضَى ، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللَّهُ
Dari Ibnu Umar dia berkata : Bila Rasul Saw. melihat hilal (anak bulan) dia berkata : Allah Maha Besar. Ya Allah, jadikanlah hilal ini bagi kami membawa keamanan, keimanan, keselamatan, keislaman dan taufik kepada yang dicintaii Robb kami dan diridhai-Nya. Robbb kami dan Robbmu (hilal) adalah Allah. (HR. Addaromi).

Itulah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika meyambut kedatangan Ramadhan. Bukan dengan hiruk pikuk pawai di jalanan sambil keliling kota memukul beduk dan sebagainya. Tidak pula dengan pesta petasan yang jelas-jelas menimbulkan keributan dan mubazir. Bukan pula dengan ajang promosi produk dan dan iklan diri agar dikenal dan dipilih masyarakat untuk jadi pejabat. Namun, keyakinan, pikiran, perasaan, kerinduan dan hati mereka tertuju hanya pada kebesaran Ramadhan yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan harapan, jika amal ibadah Ramadhan dijalankan dengan ikhlas dan khusyu’, mereka akan meraih rahmat, ampunan dan terbebas dari api neraka. Ketiga nikmat itu tidak akan ternilai harganya bagi mereka kendati dengan dunia dan seisinya.
Ketiga, setelah memasuki Ramadhan

Apa yang dilakukan Rasul dan para Sahabat setelah memasuki Ramadhan? Setelah memasuki bulan Ramadhan, sejak hari pertama dan sampai hari terakhir, Rasulullah dan para Sahabat meningkatkan kemampuan menahan diri dari berbagai syahwat, seperti syahwat telinga, syahwat mata, syahwat lidah, syahwat perut (makan dan minum), syahwat kemaluan, syahwat cinta dunia, syahwat kesombongan dan berbagai syahwat yang memalingkan mereka dari mengingat dan cinta pada Allah serta akhirat. Latihan mengendalikan dan menundukkan berbagai syahwat ini dilakukan sejak terbit fajar sampai tenggelam matahari. Inilah inti shaum (puasa) Ramadhan yang diwajibkan Allah.

Apakah setelah sepanjang hari bergulat dengan dorongan-dorongan berbagai syahwat tersebut di malamnya digunakan untuk istirahat, makan, minum dan sebagainya? Ternyata tidak. Di malam harinya Rasulullah dan para Sahabat memanfaatkannya untuk qiyam (berdiri beramal ibadah) seperti shalat taraweh, berzikir, membaca dan tadabbur Al-Qur’an dan berbagai ibadah lainnya. Artinya, selama Ramadhan, Rasul dan para Sahabat benar-benar menfokuskan diri bertaqorrub kepada Allah melalu training manajemen syahwat dan sekaligus training manajemen ibadah. Dua hal inilah yang harus dimiliki oleh setiap hamba yang ingin mendapat ridha Allah di dunia dan bertemu dengan-Nya di syurga.

Aisyah meriwayatkan : Rasulullah adalah orang yang paling dermawan. Di bulan Ramadhan Beliau lebih dermawan lagi ketika bertemu Jibril. Jibril menemui Beliau setiap malam Ramadhan untuk mengajarkan (mudarosah) Al-Qur’an. Sebab itu, kederwawanan Rasul Saw. di bulan Ramadhan lebih kencang dan lebih merata dari angin. (HR. Bukhari).

Inilah contoh nyata dari Rasul Saw. dan para Sahabat ketika mereka memasuki bulan Ramadhan. Hampir tak satupun syahwat yang tidak dapat mereka tundukkkan dan kendalikan dan tak satupun kebaikan dan amal sholeh yang mereka tinggalkan. Ramadhan benar-benar menjadi sistem penyeimbang dalam hidup ini sehingga mereka berhasil terbebas dari pengaruh syahwat karena merekalah yang mengendalikannya. Pada waktu yang sama, mereka berhasil meningkatkan kualitas diri dengan berbagai amal ibadah yang mereka lakukan dalam rangka taqorrub ilallah. Dengan demikian tercapai janji Rasul Saw. Siapa yang shaum (puasa) di bulan Ramadhan dan dia mengetahui aturan mainnya (batas-batasnya), dia menjaga apa yang seharusnya dijaga maka akan dihapus dosa-dosa sebelumnya. (HR. Ahmad dan Baihaqi).

Keempat, ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan

Jika kita teliti prilaku hidup Rasul Saw. dan para Sahabat di bulan Ramadhan, kita menemukan berbagai keajaiban. Di antaranya ialah, saat memasuki 10 hari terakhir Ramadhan. Apa yang mereka lakukan sangat kontras dengan apa yang terjadi di negeri ini. 10 Hari terakhir Ramadhan mereka habiskan di masjid, bukan di pasar, tempat kerja, di pabrik, kunjungan daerah dan sebagainya.

Menurut presepsi dan prilaku kebanyakan masyarakat Muslim Indonesia, 10 terakhir Ramadhan itu adalah kesempatan berbelanja untuk mempersiapkan keperluan lebaran dan pulang kampung, kendati mengakibatkan harga-harga semua barang naik dan membubung. Anehnya, mereka ikhlas dan tetap semangat berbelanja. Sebab itu, mereka meninggalkan masjid-masjid di malam hari dan tumpah ruah ke tempat-tempat perbelanjaan sejak dari yang tradisional sampai ke mal-mal moderen.

Lalu apa yang terjadi? Berbagai syahwat cinta dunia tidak berhasil dikendalikan, dan bahkan cenderung dimanjakan di bulan yang seharusnya dikendalikan. Pada waktu yang sama, semangat beramal ibadahpun tidak terbangun dengan baik sehingga kehilangan banyak momentum dan keistimewaan yang dijanjikan Allah dan Rasulnya. Coba bayangkan, terhadap janji Allah yang bernama Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan saja belum tertarik? Jika tertarik, tentu mereka mengejarnya di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan dengan cara beri’tikaf di dalamnya secara penuh seperti yang dicontohkan Rasul Saw. Ini yang terjadi pada salah seorang teman ketika ditanya kenapa gak jadi i’tikaf? Dia katakan : saya sedang sibuk-sibuknya sosialisasi ke daerah. Lalu saya katakana : Mana yang lebih mahal menurut Rasulullah, i’tikaf di masjid 10 hari terakhir Ramadhan atau sosialiasi pencalegan Anda? Kemudian Anda bisa jamin umur Anda akan sampai pada 10 terakhir Ramadhan yang akan datang? Sungguh terkadang kita berlagak seakan lebih pintar, lebih hebat dan lebih sibuk berjuang dari Rasul Saw.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Abu Daud dan Ibnu Majah bahwa Rasul Saw. beri’tikaf 10 hari terakhir Ramadhan. Pada tahun terakhir berjumpa Ramadhan, Beliau i’tikaf selama 20 hari. Kebiasaan I’tikaf ini diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya setelah peninggalan Beliau.

Inilah prilaku yang dibangun Rasul Saw. saat memasuki 10 hari terakhri Ramadhan dan diteruskan oleh para Sahabat dan istri-istrinya sepeninggalan Beliau.

Pertanyaannya adalah : Bukankah Rasulullah orang yang paling sibuk berdakwah dan mengurusi umatnya? Bukankah para Sahabat orang yang paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah? Lalu, kenapa mereka bisa melaksanakan i’tikaf di 10 terakhir Ramadhan? Jawabanya ialah : itulah jalan yang harus ditempuh sebagai bagian dari sistem Allah yang menyampaikan hamba-Nya ke tingkat taqwa, tak terkecuali Rasulullah dan para Sahabatnya. Lalu bagaimana dengan kita? Sudah pasti jalannya sama jika menginginkan sampai ke pringkat yang sama (taqwa).

sumber :eramuslim.com

  • Kategori

  •  

    Juni 2012
    S S R K J S M
    « Sep    
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    252627282930  


  • Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    alternative-media


    counter

    http://www.stafaband.info/embed-37463.html



    Please do not change this code for a perfect fonctionality of your counter
    maison


    compteurs


    Web Counters


    Free Hit Counter

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.